Breaking News
Loading...
Minggu, 02 Desember 2012

Theo Walcott


Why, Walcott?

November 19, 2012 oleh Supersoccer Admin 
Dilihat sebanyak 6080 Kali
Saya mulai dari aksi Walcott pekan lalu ketika Arsenal membantai Spurs (lagi) 5-2. Dalam laga itu Walcott menjadi starter, tapi bukan striker. Dengan skema 4-2-3-1, Walcott dioperasikan Wenger sebagai winger kanan, Podolski di kiri dengan Cazorla sebagai free-role player. Posisi striker diisi Giroud.
Ini skema modern, sangat agresif dengan adrenalin tinggi. Wenger menempatkan dua gelandang jangkar, Arteta dan Wilshere. Di belakang ada Vermaelen, Koscielny, Mertesacker dan Sagna. Di bawah mistar ada Szczerny. Dari sebelas starter ini, hanya Walcott dan Wilshere yang asli Inggris. Selebihnya dari Jerman, Prancis, Spanyol, Belgia dan Polandia.
OK, kembali ke Walcott. Dalam laga melawan Spurs itu, Walcott prima, enjoy dan tampil full-time. Dia memberi satu assist indah untuk Mertesacker ketika Arsenal membuka gol menit 24, dan menutup kemenangan dengan gol di injury-time: 90+1.
Ini gol ketiga dia di Premier League musim sekarang, atau gol ke-9 (dengan 7 assist) dari 15 aksi (sementaranya) bersama Arsenal di tiga level kompetisi: Premier League, Piala Liga dan Liga Champions. Dari 15 aksi itu, Walcott 6 kali sebagai starter dan selebihnya masuk sebagai pemain pengganti. Satu lagi: dalam semua laga itu, Wenger dominan mengoperasikan Walcott sebagai flank kanan.
Mari kita komparasikan dengan Olivier Giroud yang kerap jadi pilihan utama sebagai striker. Dari 18 caps Giroud musim ini di semua level, mantan tombak tajam Montpellier itu ‘baru’ mencatatkan tujuh gol, kalah dua gol dari Walcott. Adakah karena ini Walcott meradang?
Toh Walcott sudah dan tetap menunjukkan ketajamannya. Toh skema 4-2-3-1 Wenger juga moncer. Sebutlah laga versus Spurs sebagai acuan. Saya dan kita semua mungkin sepakat, Podolski-Cazorla-Walcott sangat agresif-produktif. Tiga nama ini bikin gol. Sebut juga gol cerdas Giroud – dia menjatuhkan badan dengan misi bisa melesakkan umpan Cazorla lebih cepat ke gawang Lloris.
Overall, aksi Walcott prima dan sekali lagi saya melihat dia menikmati job Wenger sebagai flanker. Lalu, mengapa Walcott harus jadi gosip panas? Soal gaji? Hmm, boleh jadi. Arsenal sudah menawarkan 75 ribu pound per pekan. Itu sekitar Rp 1,1 miliar atau setara dengan nilai kontrak satu tahun pemain lokal termahal di Indonesia. Tapi angka tersebut, buat Walcott masih kecil.
Situasi inilah, sepertinya, yang membuat sejumlah klub melirik Walcott. Dari Chelsea, Liverpool, United, bahkan juga Juventus. Momentumnya Januari depan, ketika jendela transfer dibuka. Gerilya dari sekarang dengan dead-line sebelum libur Natal.
Konon juga ada gosip yang menyebut Walcott dilego Arsenal ke Liverpool dengan syarat lain: Raheem Sterling, anak muda berdarah Jamaika yang belakangan kerap jadi pilihan utama Brendan Rodgers, juga dilepas ke Arsenal.
Walcott, yang sudah enam musim bersama Arsenal, kontraknya berakhir Juni 2013. Isyarat dari Wenger, sepanjang belum tercapai kesepakatan apapun, Walcott kemungkinan akan pergi. Entah di transfer-window Januari nanti, atau ketika kontrak Walcott berakhir dengan sendirinya. Nah!
Haruskah pemain bintang terus meninggalkan Arsenal? Wilshere, teman Walcott, tidak ingin itu terjadi. “Walcott pemain penting kami. Selain itu, saya juga tidak ingin pemain bintang terus meninggalkan tim ini,” ujar Wilshere.
Wilshere mungkin akan sangat sedih jika harus kehilangan Walcott. Tapi baiklah, kita menantikan keputusan Walcott, yang juga sudah pasti menjadi warna penting dalam diskusi-diskusi dia bersama agennya. Bertahan atau tidak. Tapi, di bawah ini ada sederet pointers yang sangat mungkin mempengaruhi sikap Walcott.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 H A R M O N I K A All Right Reserved